Cinta Tanah Air dari Belanda


Saya membuat makanan dengan resep asli Indonesia dan bukan resep Indo. Resepnya saya dapat dari oma-oma asal Indonesia.

— Ventje

KOMPAS.com – Nasi bungkus dengan daun pisang di Indonesia bukan sesuatu yang istimewa, bisa didapat dengan mudah hampir di seluruh wilayah Nusantara dan umumnya murah harganya. Berbeda dengan di negara-negara barat yang tidak tumbuh pohon pisang, tentu menjadi sesuatu yang sangat berharga dan juga mahal.

Negeri Kincir Angin, Belanda terdapat kurang lebih 2.500 restoran atau toko, warung, kedai yang menjajakan makanan Indonesia. Namun untuk mendapatkan nasi dibungkus daun pisang tidak mudah. Kalaupun ada yang menggunakan daun pisang, itu hanya sebagai alas piring jika makan di restoran Indonesia.

Ternyata ada salah satu toko di Den Haag yang menjual nasi bungkus daun pisang dan sudah menjadi menu istimewa serta populer bagi pelanggannya, yaitu Toko Si-Pentje. Toko yang menjual berbagai makanan Indonesia untuk dibawah pulang (take away) dan juga menyediakan pesanan makanan (catering).

Nasi bungkus dari Toko Si-Pentje menjadi yang populer dan laris manis, tidak hanya karena dibungkus daun pisang tapi juga karena rasanya yang tetap menjaga resep aslinya. Warga Belanda mulai mengenal istimewanya nasi bungkus Si-Pentje ketika pemilik Toko Si-Pentje beberapa tahun yang lalu berpartisipasi di pasar malam Indonesia terbesar di Eropa khususnya Belanda yaitu Pasar Malam Tong Tong yang sebelumnya bernama Pasar Malam Besar.

Selama mengikuti pasar malam tersebut, stand makanan Toko Si-Pentje selalu mendapatkan penghargaan kuliner bagi peserta stand makanan Indonesia yang disebut De Zilveren Rijstlepel. Pada tahun 2001 dan 2002 memperoleh penghargaan tertinggi sebagai kuliner yang terbaik untuk jenis makanan Nasi Bungkus dan Sate Kambing.

Saat mengikuti pameran, pengunjung stand makanan yang pemiliknya bernama Ventje ini pernah mencapai kurang lebih 15 ribu orang selama 6 (enam) hari, tentunya pengunjung sampai harus mengantre.

“Kami harus menyediakan waktu khusus bagi pembeli yang tidak terlayani saat pameran,” ungkap Ella, istri Ventje, sambil mengamati para pengunjung toko melalui layar monitor khusus (CCTV) dan sesekali menerima pesanan makanan per-telepon dari ruang kerjanya. Pelanggan bisa melihat menunya dari website www.tokosi-pentje.nl dan memesan melalui email.

Toko Si-Pentje sudah berdiri sejak tahun 1983 sebagai toko makanan Indonesia milik keluarga yang awalnya bernama Toko dan Restoran Bunga Mas. Toko makanan ini sekarang dimiliki oleh Marcel Rene Pallencaoe yang lebih dikenal dengan panggilan Ventje. Pria kelahiran Bandung 63 tahun lalu bermigrasi bersama orang tuanya ke Belanda pada tahun 1966 dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Perkapalan Belanda. Pria berperawakan tinggi yang selalu ceria ini pada awalnya bekerja di kapal dan beralih profesi bekerja di toko makanan milik keluarga. Sejak tahun 1998, Ventje yang mengelola toko makanan keluarganya bersama istri, Ella Wijnberg yang juga keturunan Indonesia.

Nasi Bungkus menjadi andalan di toko yang berukuran tidak terlalu besar tapi tertata sangat apik dan bersih dengan hiasan bernuansa Indonesia. Bahkan di atas dinding terlihat lambang negara RI, Garuda yang langsung bisa dilihat pengunjung saat memasuki ruang toko.

Pembeli bisa memilih makanan dari kurang lebih 50 menu makanan Indonesia yang tersaji di balik kaca atau di daftar menu, seperti aneka nasi goreng, nasi goreng jawa, bakmi goreng, bakmi goreng jawa, nasi kuning, lontong, nasi uduk, gado-gado, rijstafel, masakan sayur, daging , ayam dan ikan untuk dibawa pulang. Makanannya semua dibuat dengan resep aslinya dari Jawa dan Sumatera.

“Saya membuat makanan dengan resep asli Indonesia dan bukan resep Indo (Indische resep), resepnya saya dapat dari para oma-oma asal Indonesia. Oleh karena itu saya sudah berencana untuk membuat suatu buku resep makanan yang bisa digunakan oleh orang Belanda, resep makanan asli Indonesia,” kata Ventje yang selalu berpakaian khas koki saat berada di tokonya dan masih fasih menggunakan bahasa Indonesia.

Di Toko Si-Pentje tersedia juga aneka kue basah khas Indonesia dan juga bahan-bahan makanan atau bumbu Indonesia yang kebanyakan buatan Belanda. Pembeli diperbolehkan makan langsung di toko yang hanya menyediakan 2 meja kecil untuk 6 orang dengan penyajian yang sederhana, wadah plastik dan bukan piring atau gelas seperti di restoran.

Jenis toko Si-Pentje bukan tempat makan (restoran) yang menurut peraturan Belanda harus menyediakan kamar kecil (WC) khusus buat pembeli dan ruang makan yang lebih besar. Satu hal yang menarik, restoran atau toko yang menjual makanan di Belanda juga tidak diperkenankan membawa binatang peliharaan karena alasan kebersihan makanan.

Pengunjung Toko Si-Pentje dilihat dari fisiknya sebagian besar warga asli Belanda yang sudah pelanggan tetap sebagaimana diungkapkan oleh Ventje dan terlihat diantara mereka sudah saling mengenal. Sehari rata-rata 50 pengunjung dan umumnya memesan nasi bungkus yang terdiri dari nasi putih, daging rendang, sambal goreng telur, acar masak, balado tempe yang dibungkus dengan daun pisang. Daun pisang sebelum dipakai dipanaskan satu persatu diatas api agar daun lebih lunak.

Ventje tidak hanya sebagai pemilik tapi juga yang memasak (chef atau koki) khususnya makanan andalan tokonya, termasuk membungkus dengan daun pisang sehingga nasi bungkus terlihat menarik. Tidak mengherankan nasi bungkusnya sangat diminati warga Belanda khususnya yang tinggal di sekitar toko yang letaknya tidak jauh dari kawasan pemukiman yang prestisius dan tidak jauh dari istana Kerajaan Belanda serta Kedutaan Besar RI. Pihak Kedubes juga sering memesan makanan catering dari toko milik Ventje.

Bahkan beberapa keluarga dan pekerja istana serta orang ternama di Belanda juga menjadi pelanggan Toko Si-Pentje. Ventje saat memasak dibantu anak dan istrinya, sedangkan dua pegawai yang juga masih keluarganya melayani langsung para pengunjung. Pengunjungnya tidak hanya dari Den Haag tapi juga dari kota lain yang sengaja mampir di tokonya terutama saat akhir pekan.

Menyajikan nasi bungkus dengan daun pisang nampaknya hanya dilakukan oleh Toko Si-Pentje karena daun pisang harus didatangkan dari Thailand yang kualitasnya lebih bagus daripada Indonesia sehingga harganya lebih mahal.

“Menyajikan makanan yang dibungkus dengan daun pisang akan memberikan aroma dan rasa yang khas Indonesia serta menjaga rasa makanannya tetap awet,” kata Ventje disela-sela membungkus nasi pesanan pelanggannya dengan sangat trampil.

Selanjutnya dijelaskan bahwa menikmati nasi bungkus mengingatkan mereka akan Indonesia atau semacam nostalgia bagi yang pernah berada di Indonesia. Untuk lebih mengikat kenangan atau nostalgia dengan Indonesia, maka dirasa perlu rasa makanannya itu tetap seperti rasa aslinya di Indonesia.

Umumnya orang Belanda tidak menyukai makanan yang pedas, tapi untuk daging rendangnya dibuat tetap pedas akhirnya malah disukai orang Belanda. Pengunjungnya menyukai keaslian rasa pedasnya karena terasa lain dari makanan mereka sehari-harinya atau makanan Indonesia di tempat lain yang rasanya sudah disesuaikan dengan selera umum orang Belanda.

Oleh karena itu Ventje menggunakan tag-line (slogan) untuk tokonya, “Traditionele Indonesische Keuken” (Masakan Tradisional Indonesia). Masakannya juga halal sebagaimana simbol halal tercantum di brosur dan websitenya. Tentunya ini cukup menarik bagi warga negara Indonesia yang menetap atau berkunjung ke Belanda dan rindu makanan Indonesia serta makan dengan daun pisang.

Nasi bungkus yang dimakan beberapa jam kemudian setelah dipanaskan dengan daun pisangnya memang masih terasa nikmatnya karena aroma daun pisang yang menyatu dengan makanan. Lauk nasi bungkus bisa juga sesuai permintaan pembeli seperti dengan udang atau ikan bahkan bisa juga untuk yang hanya makan sayur (vegetarian).

Roy, seorang pengunjung pria muda asli Belanda yang pernah sekali berlibur ke Indonesia berkomentar, “Ik had nog nooit de originele Indonesische keuken geproefd hier (saya belum pernah merasakan makanan Indonesia asli disini). Wat een aangename verrasing krijgt ik hier in de toko van Ventje (suatu kejutan bagi saya menemukannya di toko milik Ventje). Echt lekker en heerlijk hoor eten de nasi bungkus met pisang bladeren!” (sungguh enak dan nikmat makan nasi bungkus daun pisang!).

Makanan andalan lainnya yang dimasak saat ada yang memesan adalah sate kambing. Rasanya juga istimewa karena daging kambingnya empuk dan besar dengan bumbu kecap yang dicampur saus kacang, cabe rawit dan bawang, bagaikan menikmati sate kambing yang terkenal di Jakarta.

Makanan yang juga favorit adalah tahu telor yang dimasak dengan resep Indische (campuran Indonesia dan Belanda), tahu dan telur dicampur jadi satu kemudian digoreng dan disajikan dengan tauge.

Harga makanan Toko Si-Pentje relatif sama dengan harga di toko makanan lainnya bahkan bisa dikatakan lebih murah karena disajikan dengan daun pisang. Harga nasi bungkus yang ukurannya cukup besar, dua kali porsi nasi bungkus di Indonesia dijual seharga 10,5 Euro untuk yang lauknya dengan daging rendang, sedangkan dengan ikan atau udang dijual seharga 11,5 Euro. Di Belanda harga daging lebih murah daripada udang dan ikan. Ventje lebih mementingkan menjaga kualitas makanan yang tetap dengan rasa asli Indonesia karena itu yang dicari pelanggannya.

Sukses yang dicapai Toko Si-Pentje dalam memperkenalkan makanan dengan resep asli Indonesia dan kemasan traditional merupakan suatu promosi bagi Indonesia khususnya untuk kuliner Indonesia go international. Seyogianya tradisi membungkus makanan khususnya nasi bungkus dengan daun pisang di Indonesia bisa tetap dipertahankan juga, selain lebih sehat, murah dan makanan menjadi lebih enak serta nikmat untuk dimakan. Jadi bukan hanya orang di Belanda yang bisa mengatakan nikmatnya makanan dibungkus daun pisang… (Janine Helga  Groeneveld Warokka)

Editor :

I Made Asdhiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s